Dari berbagai sumber
![]() |
| Berlari tanpa alas kaki di bukit |
Lari tanpa alas kaki itu sehat, kok!
Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa lari tanpa alas kaki dapat
meningkatkan kelincahan gerak kaki karena memperkuat otot, tendon, dan
ligamen kaki tanpa dibatasi oleh tekanan dari sepatu. Selain itu, lari
nyeker dapat memperkuat otot-otot kecil di telapak kaki, pergelangan
kaki, dan pinggul yang bisa membantu Anda memperbaiki postur sekaligus
memantapkan keseimbangan tubuh.
Berlari “nyeker” juga dipercaya dapat menghindari Anda dari cedera olahraga, seperti otot betis yang tertarik, keseleo, atau cedera Achilles tendon yang disebabkan oleh ketegangan otot berlebihan.
Manfaat lari tanpa alas kaki tidak berhenti sampai di situ saja, lho!
Berlari “nyeker” dapat sekaligus Anda jadikan sebagai sesi pijat kaki
gratis karena berjalan di atas permukaan yang tidak rata dapat
merangsang titik-titik sensitif di telapak kaki untuk memperlancar
aliran darah — mirip seperti terapi akupunktur.
Lari di atas tanah tanpa alas kaki juga membantu Anda merasa lebih
terkoneksi dengan alam sekitar, yang membantu mengurangi stres.
Meski begitu, bukan berarti Anda lebih baik berlari bertelanjang
kaki, lho! Lari “nyeker” masih menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang
perlu Anda pertimbangan masak-masak.
Lari nyeker tingkatkan risiko cedera
Tak dapat dipungkiri, kapalan
atau cedera tertusuk benda tajam dan puing-puing jalanan menjadi risiko
terbesar dari lari “nyeker”. Berlari di atas permukaan tanah yang
lembap atau jalanan kotor juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit
dari mikroorganisme yang tinggal di sana, seperti kutu air hingga kadas dan kurap.
Pada sebagian besar orang yang belum terbiasa, lari tanpa alas kaki
dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman atau pegal-pegal hingga bahkan
cedera seperti tendonitis atau kram kaki akibat otot betis yang
menegang.
Selain itu, terbiasa lari tanpa alas kaki bisa mengubah struktur asli
telapak kaki Anda. Sebuah penelitian terbitan jurnal Nature menyatakan
bahwa telapak kaki pelari yang bertelanjang cenderung lebih rata
daripada yang lari pakai sepatu lari.
Telapak kaki manusia dibuat alami melengkung. Lengkungan tersebut
berfungsi untuk menyeimbangkan tubuh ketika Anda melakukan gerakan.
Telapak kaki rata justru dapat menyebabkan Anda rentan mengalami nyeri
dan sakit otot setelah berlari. Dalam kasus tertentu, hal ini dapat
meningkatkan risiko Anda terkena plantar fascitis.
Jadi, lebih baik pakai sepatu lari?
Selain berfungsi untuk melindungi kaki dari batu atau benda asing
yang mungkin menyakiti telapak kaki Anda, sepatu juga menjaga agar
lengkungan kaki Anda tidak berubah merata.
Di sisi lain, beberapa ahli beranggapan bahwa memakai sepatu dapat
menyebabkan otot-otot kecil kaki melemah sehingga menciptakan postur
lari dan gaya gerak kaki yang buruk. Daniel Lieberman, PhD, seorang
profesor biologi di Harvad University juga mengatakan pada WebMD bahwa berlari pakai alas bisa saja meningkatkan risiko cedera kaki dan lutut.
Pakai alas atau tidak, yang paling penting adalah untuk selalu
memperhatikan keselamatan Anda sendiri saat berlari. Hindari lari di
atas permukaan yang tidak rata dan rentan menyembunyikan “ranjau”
berbahaya. Melatih postur lari yang baik juga dapat membantu Anda terhindar dari cedera olahraga.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar