Pos Publik - Matahari belum tenggelam, tapi Dian Eka sudah tiga kali memesan layanan Go-Jek. Pagi-pagi, ia memesan galon air melalui Go-Daily. Selanjutnya, Eka pergi ke kantor dengan Go-Ride dan memesan makan siang melalui Go-Food.
“Semua dibayar pakai Go-Pay,” kata karyawan swasta yang berkantor di Jakarta Selatan ini sembari tertawa, Jumat (29/6).
Tentakel gurita bisnis Go-Jek memang sudah begitu lekat dengan
kehidupan masyarakat urban, terutama Jakarta. Meski baru berumur 8
tahun, Go-Jek di bawah bendera PT Aplikasi Karya Anak Bangsa ini sudah
memiliki belasan layanan berbeda.
Pada 2010 lalu, Go-Jek hanya memiliki 20 pengemudi ojek online yang beroperasi di Jakarta saja. Kini, jumlah mitra pengemudi ojek dan taksi online Go-Jek telah lebih dari 1 juta dan tersebar di 50 kota. "Sebagai technology enabler,
pada prinsipnya kami akan selalu berinovasi untuk terus mengembangkan
layanan," ujar Chief of Corporate Affairs Go-Jek Nila Marita.
Bermula dari layanan berbagi tumpangan (ride-hailing). Saat ini,
aplikasi Go-Jek telah diunduh 77 juta kali menyediakan 19 layanan yang
terbagi atas tiga kelompok besar yaitu transportasi, gaya hidup, dan
keuangan.
Untuk transportasi saja, ada sembilan layanan yakni Go-Ride, Go-Car,
Go-BlueBird, Go-Food, Go-Mart, Go-Send, Go-Box, Go-Tix, dan Go-Med. Lalu
untuk kategori Go-Life,
tersedia layanan Go-Massage, Go-Clean, Go-Glam, Go-Auto, dan Go-Daily.
Kemudian, yang tergolong dalam layanan keuangan di antaranya Go-Pay,
Go-Points, Go-Pulsa, dan Go-Bills.
Bahkan, Go-Jek berencana masuk bisnis konten melalui aplikasi baru yang diberi nama Go-Play.
Seperti Netflix yang memproduksi sendiri beberapa tayangannya, beberapa
konten yang tayang melalui Go-Play nantinya juga akan diproduksi secara
internal melalui Go-Studios.
Go-Jek merupakan startup Indonesia yang pertama kali
menyandang status unicorn. Predikat itu diraih pada Agustus 2016,
setelah Go-Jek mendapat suntikan dana sebesar US$ 550 juta atau sekitar
Rp 7,2 triliun dari beberapa investor global seperti Warburg Pincus,
KKR, Sequoia dan Rakuten.
Lalu, Go-Jek mengakuisisi perusahaan agen tiket online yaitu Loket.com dan tiga perusahaan financial technology
(fintech), yakni Kartuku, Mapan, dan Midtrans. Aksi itu dilakukan
setelah Go-Jek mendapatkan dana segar pada putaran investasi lanjutan
dari Tencent sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 16 triliun.
Hasilnya, kini layanan Go-Pay semakin berkembang hingga menyasar mitra offline seperti pom bensin Pertamina, Gramedia, hingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mitra Go-Food. Selain itu, belasan toko online
di luar ekosistem Go-Jek seperti Adidas, The Body Shop, Sociolla juga
menerima pembayaran via Go-Pay. Go-Pay juga bisa digunakan untuk
berinvestasi emas melalui E-mas dan Baznas.
Pada lini bisnis pesan antar makanan, Go-Jek juga memaksimalkan
layanan Go-Food dengan membangun 12 Go-Food Festival di 10 kota. Go-Jek
mencatat, lebih dari 150 ribu penjual makanan sudah bergabung dalam
layanan Go-Food. Di mana, dari setiap transaksi, Go-Jek memungut biaya
bagi hasil sebesar 20%.
Kini, Go-Jek juga siap go international dengan menyasar
empat negara di ASEAN yakni Vietnam, Thailand, Filipina, dan Singapura.
Meski, Go-Jek kemungkinan tak akan menggunakan namanya sendiri di luar
negeri. Di Vietnam misalnya, Go-Jek akan memperkenalkan aplikasi
Go-Viet, lalu di Thailand akan diberi nama GET.
Layanan ride hailing akan lebih dulu jadi senjata Go-Jek
saat ekspansi ke negeri jiran. Setelahnya, Go-Jek akan mengembangkan
berbagai layanan on-demand lainnya seperti Go-Food dan Go-Send. "Sudah
cukup lama kami bertahan. Sudah waktunya Indonesia menyerang," ujar CEO
dan Founder Go-Jek. ( Sari berbagai sumber )




Tidak ada komentar:
Posting Komentar